Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar

Rabu 01 May 2024 - 18:30 WIB
Reporter : Bambang
Editor : Bambang

BACA JUGA:5 Pemain Timnas Indonesia U-23 Dipastikan Takkan Dipanggil Lagi Selepas Piala Asia U-23 2024

Merdeka belajar pada hakikatnya pembelajaran berpihak atau berpusat kepada murid (student-centered learning) yang sudah dikembangkan oleh KHD sejak tahun 1922 di perguruan Taman Siswa.

Dalam hal ini, murid memainkan peranan penting dengan bimbingan guru. Minat, gaya, dan kesiapan belajar siswa diletakan sebagai prioritas sehingga tercipta pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning). 

Pengembangan karakter (budi pekerti) harus sesuai dengan perkembangan budaya bangsa sebagai sebuah kontinuitas menuju ke arah kesatuan kebudayaan dunia (konvergensi) dan tetap memiliki sifat kepribadian di dalam lingkungan kemanusiaan sedunia (konsentris).

KHD menanamkan kepada muridnya nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, kerja keras, kerja cerdas, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, senang membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, dan tanggung jawab. Aksentuasi terhadap nilai-niai moral sejalan juga dengan komisi masa depan pendidikan UNESCO dalam laporannya berjudul "Reimagining Our Futures Together" pada Oktober 2021 yang menyatakan pembelajaran terbaru harus dirancang dengan menanamkan nilai -- nilai solidaritas, welas asih, etika dan empati.

BACA JUGA:Resmi Jadi WNI, Maarten Paes Belum Tentu Diturunkan di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Lawan Irak

Pendidikan (opvoeding) dan pengajaran (onderwijs) adalah 2 hal yang berbeda menurut KHD namun saling bersinergis.

Tujuan pendidikan adalah memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan pengajaran merupakan bagian dari proses pendidikan dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin.

Lebih lanjut, KHD menyatakan bahwa pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah yaitu kemiskinan dan kebodohan.

BACA JUGA:Perluas Jangkauan di Liga 1 dan Klub Bola Internasional dengan Kolaborasi Strategis

Sedangkan pendidikan mengarah pada memerdekakan manusia dari aspek hidup batin yaitu otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik. 

Pendidikan hendaknya disesuaikan dengan kodrat alam yang berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan anak berada serta kodrat zaman yang merupakan muatan atau konten pengetahuan yang diadopsi sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan dan konteks sosial budaya di Indonesia.

Merdeka belajar yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek menekankan beberapa hal yaitu pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) untuk mengembangkan soft skill dan karakter sesuai dengan profil belajar Pancasila, berfokus terhadap materi esensial sehingga terdapat waktu untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi serta fleksibilitas guru untuk bisa melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik.

Permendikbud Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kemendikbud Tahun 2020-2024 menetapkan Profil Pelajar Pancasila sebagai bentuk penerjemahan tujuan pendidikan nasional yang tidak hanya menjadi referensi utama yang mengarahkan kebijakan-kebijakan pendidikan tetapi acuan dalam membangun kompetensi dan karakter peserta didik yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) dan berahlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

BACA JUGA:Erick Thohir Sebut Calvin Verdonk dan Jens Raven dalam Proses Naturalisasi

Tags :
Kategori :

Terkait